Wednesday, 29 November 2017

Kami di Belitong #1 Delay dan Belitong Timpo Duluk




lagi scroll chat whatsapp, eh ketemu obrolan ke belitong. Saya masih ingat betapa excitednya persiapan kesana, bahkan moment-moment berkesan yang bikin saya susah 'move on' dari belitong di jakarta. Jelas, gimana gak excited karena saya belum pernah di Sumatra. 

Tiap hari aktifitas saya jadi rajin mantengin tiket promo dan searching tempat wisata wajib ke belitong. Tapi karena saya tipekal ngikut aja dan random jadi pasrah saja di bawa kemanapun, kebetulan saya perginya rame-rame jadi sama sekali gak khawatir. 

Bisa di bilang ini persiapannya mendadak cuma sebulan, setelah sepakatin transport, penghinapan dan tempat wisata akhirnya kita semua berangkat pada tanggal 11 November 2017. 
Semalam sebelum berangkat saya enggak bisa tidur. Lagi asik ngebayangin betapa serunya disana, padahal juga belom berangkat. Sepertinya euforia saya gak bisa di tahan deh, jadi sampe ngaruh ke tidur yah. 

Bermodalkan ransel ala bagpacker, saya memasukan beberapa potong baju dan keperluan lainnya. Paling penting sarung gadget anti air ! Jangan salah ini sangat penting loh kalau kita mau ke pantai, supaya gadget khususnya handphone tidak rusak kena air. Sempat delay 30menit di bandara bikin saya makin gak sabar buat sampai. Sembari nunggu jadwal saya sempatkan baca buku judulnya I am The Banker, buku ini saya rekomendasikan buat kalian yang bekerja di bank harus baca deh karena banyak banget kejadian dari penulis yang mancing bilang "ih gue banget nih di kantor".

Akhinya kami tiba di Bandara Tanjung Pandan, Belitong. Mata saya langsung termanjakan oleh pegununan, rindangnya pepohonan dan suasana rasa sejuk. Sepanjang perjalanan menuju penginapan saya tidak banyak melihat aktifitas masyarakat pada saat weekend, sepertinya mereka memilih untuk berkumpul bersama lebih dekat dengan keluarga. Maka kami memilih mengeksplore kuliner di sekitaran hotel yaitu kawasan jalanan patmura, tanjung pendam pada malam hari. 

Teman saya Fariz bilang, "eh ke Belitong Timpo Duluk ini legend nih ". Benar saja sampai disana kami termanjakan dengan rasa masakan khas Sumatra, belitong. Jujur enak banget, saya sampai nambah terus. Semua menunya rekomended, pelayananya juga ramah mereka siap menjawab pertanyaan wisatawan yang berkujung di sini. Puas kulineran dan beli hok lok pan (*martabak ) kami pulang ke penginapan untuk menghabiskan malam bersama dengan bermain UNO Stacko ditemani oleh kuaci. Tawa riang dan ekspresi lucu mereka semua, bikin saya tertawa lepas dan selalu menantikan obrolan 'unik'sembari menunggu giliran bermain uno. Walaupun saya gak ngerti banget main Uno, tapi untungnya saya lolos dari hukuman coret-coret muka :) 
Share:

0 comments:

Post a Comment